Isinyamengkaji tentang Post Moderenisme dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, karya Buya Hamka. Berikut kutipan singkatnya: A. Pendahuluan Tepat pukul 15.30, tanggal 15 Juli 1972, kompleks bangunan perumahan Pruitt Igoe St. Louis, Missouri, diledakkan. Kompleks bangunan yang dirancang dengan konsep arsitektur modern ortodoks oleh
4 Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Jangan hanya sekedar hidup. Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar bekerja, kera juga bekerja. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka. Hiduplah dengan cara yang luar biasa. Bukan hal yang biasa yang akan dilihat orang, tapi hal yang luar biasa.
2 Unsur religiusitas roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung aspek aqidah, syariah, dan akhlak yang tergambar dalam setiap perilaku tokoh yang dimainkan, di samping itu pengarang sendiri sebagai seorang agamawan yang begitu kental memasukkan unsur–unsur agama ke dalam roman ini. 3.2 Saran.
tenggelamnyakapal van der wijck hamka. daftar isi 1. anak orang terbuang 2. yatim piatu 3. menuju negeri nenek moyang 4. tanah asal 5. cahaya hidup 6. berkirim-kiriman surat 7. pemandangan di dusun 8. berangkat 9. di padang panjang 10. pacu kuda dan pasar malam 11. bimbang 12. meminang 13.
Judul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Pemain: Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza Rahadian Sutradara: Sunil Soraya Produksi: Soraya Intercine Films Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck atau TKVDW merupakan adaptasi dari roman karya Buya Hamka yang diangkat ke layar lebar dan dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza
cara mengirim al fatihah untuk orang yang masih hidup. BAB I PENDAHULUAN Perkembangan budaya tidak dapat dipungkiri ikut mempengaruhi penulisan karya sastra di Indonesia. Masyarakat Indonesia yang dahulu sangat patuh akan tradisi kini sudah mulai terbuka akan hal-hal baru. Hal ini ditandai dengan banyaknya karya sastra yang menceritakan gaya hidup modern, bahkan tak sedikit karya sastra bahasa asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maraknya karya sastra yang menceritakan gaya hidup kebarat-baratan, berseting di luar negeri, atau merupakan terjemahan dari karya sastra luar negeri lama kelamaan dapat mel rasa cinta dan pengetahuan bangsa Indonesia akan budayanya sendiri. Karya-karya sastra Indonesia pada zaman dulu sebenarnya merupakan karya yang sangat indah dan mengandung nilai-nilai budaya dan kehidupan yang bisa kita pelajari. Salah satunya adalah Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. Novel ini merupakan novel terbitan tahun 1939 yang kisahnya tak lekang dimakan zaman. Dalam tulisan ini mencakup identitas novel, unsur intrinsik, unsur ekstrinsik, serta kelemahan dan kelebihan dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah Memenuhi penugasan yang diberikan dalam pelajaran Bahasa Indonesia Melaporkan tanggapan dan analisis terhadap karya sastra. Memberikan Informasi seputar Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck pada pembaca. Sedangkan manfaat laporan ini diantaranya Meningkatkan rasa cinta terhadap karya sastra lama Memperkenalkan kembali karya sastra lama agar tak mudah dilupakan Mengetahui kehidupan dan budaya bangsa Indonesia pada zaman dulu. BAB II Isi Judul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Penulis Haji Abdul Malik Karim Amrullah HAMKA Penerbit Balai Pustaka Genre Romance Tahun terbit Jakarta, 1939 Jumlah halaman 236 Halaman ISBN 979-418-055-6 Zainuddin, seorang pemuda yang tinggal di Makasar pergi berkelana ke kampung halaman ayahnya di Padang . Di sana ia tak diakui sebagai orang Padang karana menurut hukum adat, garis keturunan yang kuat berasal dari pihak ibu, sedangkan ibu Zainuddin adalah orang Makasar. Zainuddin jatuh cinta pada Hayati, seorang gadis desa yang cantik dan berasal dari keluarga yang taat adat. Sayangnya, cinta Zainuddin harus terhalang karena keluarga dan ketua adat tidak setuju Hayati menikah dengan Zainuddin yang dianggap tidak sederajat. Hayati pun menikah dengan kakak dari teman nya yang bernama Azis. Zainuddin yang patah hati merantau ke pulau Jawa dan menjadi seorang penulis yang terkenal di sana. Azis yang ditugaskan bekerja di pulau Jawa pun membawa Hayati dan tinggal di sana. Siapa sangka, ternyata Azis adalah seorang pemuda yang suka mabuk-mabukan, berjudi dan main perempuan, hingga akhirnya ia jatuh bangkrut dan di tolong oleh Zainuddin. Azis pun menitipkan Hayati pada Zainuddin lalu bunuh diri. Namun, Zainuddin yang pernah sakit hati oleh Hayati tak mau menerima Hayati dan memulangkannya ke Padang. Kapal Van der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam, Hayati pun meninggal setelah dibawa ke rumah sakit. Setelah kepergian Hayati, Zainuddin selalu bersedih dan meninggal dunia menyusul kekasihnya. ü Nilai Moral Nilai moral yang terdapat dalam novel ini adalah pentingnya kebiasaan untuk memaafkan. Hal ini terlihat dari penyesalan Zainuddin setelah Hayati meninggal. Andai Zainuddin memaafkan Hayati dan menerimanya, maka mereka akan hidup bahagia. ü Nilai Sosial Nilai Sosial terlihat dari kebaikan ibu Muluk yang mau menampung dan membantu Zainuddin saat ia terpuruk, juga pada saat Zainuddin membantu Azis dan Hayati yang jatuh bangkrut. ü Nilai adat Istiadat Nilai adat sangat terlihat dari kehidupan penduduk zaman dulu di kota Padang yang sangat patuh pada tradisi. Contoh nya saat Zainuddin ingin menikahi Hayati, para ketua adat tidak menerimanya karena Zainuddin dianggap tidak sesuku dengan mereka. ü Nilai Agama Zainuddin adalah seorang yang taat beribadah, ia bahkan tak suka melihat Hayati yang memakai pakaian terbuka saat bertemu dengannya di Padang Panjang. Nilai-nilai dalam novel Tenggelamnya kapal Van Der Wijck dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan. Seperti nilai moral yang mengajarkan kita untuk saling memaafkan, nilai sosial untuk saling membantu, nilai adat agar kita selalu menjadi orang yang memiliki adat istiadat dan nilai agama yang mengajarkan kita untuk senantiasa taat kepada Tuhan yang Maha Esa. Novel ini memberi banyak pelajaran dan amanat bagi pembacanya. Diantaranya, jangan menilai segala sesuatu dengan materi karena materi tidak menjanjikan kebahagiaan, seperti saat Hayati menikahi Azis yang berasal dari keluarga kaya, ia tak merasa bahagia karena Azis ternyata seorang pemuda yang tak bertanggung jawab. Di dalam usia 31 tahun 1938, masa darah muda masih cepat aliranya dalam diri, dan khayal serta sentimen masih memenuhi jiwa, di waktu itulah "ilham" "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" ini mulai ku susun dan dimuat berturut-turut dalam majalah yang ku pimpin "Pedoman Masyarakat." Setelah itu dia diterbitkan menjadi buku oleh saudara M. Syarkawi cetakan kedua seorang pemuda yang giat menerbitkan buku-buku yang berharga. Belum berapa lam tersiar, dia pun habis. Banyak pemuda yang berkata "Seakan-akan tuan menceriteraka nasibku sendiri." Ada pula yang berkata "Barangkali tuan sendiri yang tuan ceriterakan!" Sesungguhnya bagi seorang golongan agama, mengarang sebuah buku roman, adalah menyalahi kebiasaan yang umum dan lazim pada waktu itu. Dari kalangan agama pada mulanya, saya mendapat tantangan keras. Tetapi setelah 10 tahun berlalu, dengan sendirinya heninglah serangan dan tantangan itu, dan kian lama kian mengertilah orang apa perlunya kesenian dan keindahan dalam hidup manusia. 1. Tema Percintaan dan Persahabatan 2. Penokohan dan Watak Zainuddin Baik Hati, Tulus, Taat beribadah, sedikit pendendam. Hayati cantik, Lemah lembut, Mudah dipengaruhi. Azis Kasar, tidak bertanggung jawab, mudah putus asa. Muluk Baik hati, setia kawan, humoris. Mak Base Keibuan, Baik hati, Penyayang, tanpa pamrih. Khadijah Modern, centil, suka mempengaruhi. Mamak Datuk Tegas, berkuasa, taat pada tradisi. Mande Jamillah Baik hati, sollehah, suka menolong. Pendekar Sutan Baik hati, bertanggung jawab. 3. Latar Tempat Makasar, Padang Panjang, rumah Khadijah, Pacuan kuda, Di atas kapal, Area pesawahan, pasar, Jawa, rumah Khadijah, rumah sakit. Waktu pagi, siang hari, Subuh, sore, Malam. Suasana Bahagia, Sedih, tegang, romantis. 4. Alur/plot Alur yang di gunakan dalam novel ini adalah alur campuran antara alur maju da alur mundur. Alur Maju menceritakan kisah hidup Zainuddin dan kisah cintanya pada Hayati hingga ia meninggal, sedangkan alur mundur terlihat saat Zainuddin menceritakan kisah ayahnya saat masih tinggal di Kota Padang. 5. Sudut pandang Sudut pandang menggunakan sudut pandang orang ketiga seba tahu. Penulis menceritakan setiap tokohnya dari luar cerita dan mengetahui situasi dan kondisi serta detai setiap bagian. 6. Amanat Jangan mudah berputus asa jika mengalami kesulitan dalam hidup. Tokoh Zainuddin yang awalnya hampir gila karena ditinggal Hayati akhirnya menjadi seorang penulis yang sukses karena mampu bangkit dari keterpurukan. Lalu saling tolong menolong sesama manusia, contohnya kebaikan Muluk dan Ibunya yang mau membantu Zainuddin saat ia terpuruk. 7. Gaya bahasa Bahasa yang digunakan dalam novel ini adalah gaya bahasa Indonesia zaman dulu dan masih kental dengan bahasa melayu, terdapat banyak perumpamaan dan majas serta syair yang menjadi ciri khas sastra melayu. Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia MUI pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Meskipun Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diterbitkan tahun 1939, tapi situasi yang diceritakan masih relevan dengan zaman sekarang. Contohnya Zainuddin yang ditinggal menikah oleh kekasih hatinya, kisah seperti ini bisa kita temukan di kehidupan nyata. Lalu kisah Zainuddin yang menjadi sukses setelah bangkit dari keterpurukan juga banyak kita temui dari kisah tokon-tokoh terkenal pada zaman sekarang. Namun kondisi masyarakat dalam novel ini cukup berbeda dengan kondisi masyarakat zaman sekarang. Kondisi masyarakat yang diceritkan dalam novel ini masih sangat taat akan tradisi sedangkan masyarakat zaman sekarang sudah lebih modern dan lebih terbuka pada hal-hal baru. a Kalimat Simpleks Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya. Di waktu senja demikian kota Mengkasar kelihatan hidup. Dia dinamai ayahnya Zainuddin. Darah muda masih mengalir dalam badannya. Dari pembuangan Cilacap dia dibawa orang ke tanah Bugis. b Kalimat Kompleks Orang serumah itu ribut, pekik yang perempuan lebih-lebih lagi. Ketika Landraad bersidang di Padang Panjang, Pendekar Sutan mengaku terus terang atas kesalahannya, dia dibuang 15 tahun. Setelah dipotong 3 tahun, habislah hukuman dijalankannya seketika dia berada di Mengkasar. Kalau dia mau tentu dia akan dikirim ke Minangkabau, tanah tumpah darahnya. Meskipun hatinya amat ingin dan telah teragak hendak pulang, ditahannya, dilulurnya air matanya, biarlah negeri Padang "dihitamkan" buat selama-lamanya. c Kata Penghubung Kata penghubung/konjungsi yang terdapat dalam novel ini diantaranya Dan Ayahnya berkata, jika Mengkasar ada Gunung Lompo Batang dan Bawa Kara... Tetapi Ia tak tahu benar apakah isi lagu itu, tetapi rayuannya sangat melekat dalam hatinya. Sejak Sejak kecilnya telah dirundung oleh kemalangan'... Untuk mengetahui siapa dia... Ketika Ketika Landraad bersidang di Padang Panjang, Pandekar Sutan mengaku terus terang atas kesalahannya, dia dibuang 15 tahun d Kata Rujukan Sang Hilang kebesaran Sang Surya, maka dari balik puncak Lompo Batang yang antara ada dengan tidak itu terbitlah bulan 15 hari menerangi seluruh alam. Beliau Ia teringat pesan ayahnya tatkala beliau akan menutup mata, ia teringat itu, meskipun dia masih lupa-lupa ingat. Si "Pertama membaca Al-Qur-an tengah malam, kedua membuaikan si Udin dengan nyanyian negeri sendiri, negeri Padang yang ku cinta. Kekurangan Penggunaan bahasa yang masih kental dengan bahasa melayu sehingga tidak mudah dipahami. Banyak terdapat kata-kata yang tidak dimengerti. Akhir yang tragis dan tidak bahagia. Ada beberapa tokoh yang tidak diceritakan akhirnya. Latar waktu yang tidak terlalu jelas Kelebihan Sangat kental akan budaya yang mungkin hampir dilupakan. Menceritakan kisah yang masih segar di zamannya. Berisi motivasi untuk bangkir dari keterpurukan. Kisah yang sangat menarik dan mendidik. Mengandung banyak pembelajaran. BAB III Penutup Novel Tenggelamnya kapal Van Der Wijck merupakan novel karya sastrawan Indonesia pada zaman dulu yang kisahnya tak lekang dimakan waktu. Novel ini diterbitkan pada tahun 1939 dan Di tulis oleh seorang tokoh agama sehingga Banyak amanat dan pelajaran yang dapat dipetik dari novel ini. Walaupun merupakan novel terbitan zaman dulu, namun situasi dan ceritanya masih relevan dengan zaman sekarang. Kisahnya yang romantis, sedih, sekaligus menyentuh dapat membuat pembaca terhibur dan terbawa perasaan. Penulis menyarankan agar kita sebagai bangsa Indonesia lebih mencintai dan merasa bangga akan budaya Indonesia, terutama karya sastra. Jangan lupakan karya-karya satra lama karena sejatinya karya sastra klasik mengandung nilai-nilai luhur yang bisa kita pelajari dan kita terapkan bahkan hingga zaman sekarang. Membaca karya terjemahan memang perlu sebagai bekal untuk menambah pengetahuan, tapi jangan sampai kita enggan bahkan melupakan karya anak bangsa kita sendiri, Bangsa Indonesia.
100% found this document useful 1 vote6K views8 pagesDescriptionANALISIS Novel Tenggelamnya Kapal Van Der WijckCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 1 vote6K views8 pagesANALISIS Novel Tenggelamnya Kapal Van Der WijckJump to Page You are on page 1of 8 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 7 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Produksi[sunting] Cerita ini awalnya terbit sebagai cerita bersambung dalam majalah Pedoman Masyarakat di Medan pada tahun 1938. Lalu, M. Syarkawi mencetak cerita ini dalam bentuk buku. Cetakan pertama tahun 1939, cetakan kedua tahun 1949. Cetakan seterusnya diurus oleh Balai Pustaka pada 1951. Kemudian, selanjutnya Balai Pustaka menyerahkan buku ini kepada Penerbit Nusantara sejak cetakan kedelapan Maret 1961. Novel ini terbit di Kuala Lumpur pada tahun 1963. Setelah itu, dilanjutkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada cetakan ke-11, tahun 1976. Kronologi[sunting] Arc 1 Makassar[sunting] Deskripsi latar Makassar Tepi pantai, Pulau Laya-Laya, orang Mandar, kota Mengkasar, lapangan Karibosi, Gunung Lompobatang, Gunung Barakaraeng, Pelabuhan Makassar, Kampung Baru, Kampung Mariso Zainuddin, 19 tahun, mengingat pesan ayahnya yang sudah wafat. Ayahnya dulu pernah menjelaskan bahwa dia adalah orang Minang bukan orang Makassar. Ayahnya suka mendendangkan pantun dan lagu minang kepadanya, sambil menceritakan panorama alam yang ada di kampung halamannya. Flashback Backstory ayah Zainuddin Tiga puluh tahun yang lalu, di Batipuh, Sapuluh Koto, Padang Panjang, ayah Zainuddin bergelar "Pandekar Sutan", adalah keponakan Datuk Mantari Labih datuk adalah tokoh pimpinan adat di Minangkabau. Karena ia tidak memiliki saudara perempuan, maka menurut adat Minang, harta warisan ibunya dikelola oleh dia bersama-sama dengan pamannya paman dalam bahasa Minang disebut dengan "mamak" Datuk Mantari Labih. Datuk suka menghabiskan harta warisan Sutan. Sedangkan Sutan sendiri dilarang untuk menggunakan harta warisan itu. Sutan ingin menggadaikan harta warisan itu untuk modal pernikahannya, namun tetap saja ditolak oleh Datuk. Padahal, harta warisan Sutan dijual oleh Datuk untuk biaya pernikahan anaknya sendiri. Saat pertemuan di "rumah besar" rumah gadang bersama dengan para mamak-mamak yang lain, Sutan berusaha untuk memprotes"kezaliman" yang dilakukan Datuk kepadanya. Datuk pun naik darah. Sambil melompat, Datuk mengeluarkan kerisnya untuk menyerang Sutan. Namun, Sutan diberi julukan "Sutan Pendekar" bukan tanpa alasan. Sutan berhasil menancapkan belatinya ke lambung kiri Datuk lebih dulu, mengenai jantungnya. Seisi rumah ribut, banyak orang berusaha untuk menyerang Sutan, namun semuanya berhasil dikalahkan oleh Sutan. Pekik perempuan semakin menjadi-jadi karena banyaknya korban yang berjatuhan. "Amuk-amuk!" teriak orang kampung. Kentongan berbunyi. Penghulu kepala kepala daerah lekas diberi tahu. Penghulu suku pun tahu juga. Beberapa jam kemudian, Pendekar Sutan ditangkap. Datuk Mantari Labih akhirnya meninggal setelah beberapa jam ditikam. Landraad pengadilan negeri zaman Hindia Belanda melakukan sidang di Padang Panjang. Sutan mengaku terus terang atas kesalahannya, dia dihukum buang selama 15 tahun. Saat itu, usia Sutan baru sekitar 20 tahun. Sutan dibuang ke Pembuangan Cilacap. Saat itu, Cilacap terkenal sebagai pembuangan orang dari Sumatra. Dari Cilacap, dia dibawa orang ke Tanah Bugis. Saat itu, terjadi peperangan Bone. Serdadu-serdadu Jawa perlu membawa "orang-orang rantai" narapidana yang gagah berani untuk memenangkan perang itu. Sutan telah menyaksikan sendiri kejatuhan Bone, menyaksikan ketika Kerajaan Goa takluk, menyaksikan kapal Zeven Provincien menembakkan meriamnya ke Pelabuhan Pare-pare. Istilah Arkais[sunting] Istilah arkais[1] merupakan istilah-istilah kuno dalam Bahasa Indonesia yang sudah jarang digunakan pada saat ini. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1938.[2] Bahasa Indonesia pada saat itu cukup berbeda dengan Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang. Oleh sebab itu, kita akan banyak menemui istilah-istilah arkais yang digunakan pada novel ini. Peraduan[sunting] Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya. Peraduan adalah istilah arkais untuk tempat tidur / tempat peristirahatan.[3] Islam[sunting] Meskipun genrenya percintaan, novel ini ditulis oleh seorang ulama tafsir Al Quran asal Minangkabau Prof. Dr. Hamka. Oleh sebab itu, novel ini kental dengan unsur Islam. Matahari dan perintah alam gaib[sunting] Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya. Dengan amat perlahan, menurutkan perintah dari alam gaib. Matahari mengikuti perintah dari alam gaib, sesuai dengan Al Quran Surat Yasin, ayat 38.[4] Pada ayat itu dijelaskan bahwa pergerakan matahari merupakan salah satu ketetapan perintah Allah. Suatu tanda juga atas kekuasaan Allah bagi mereka adalah matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Makassar[sunting] Latar tempat dalam novel ini terbagi menjadi tiga lokasi utama Makassar, Minangkabau dan Tanah Jawa. Bagian pertama dari novel ini mengisahkan kehidupan masa kecil Zainuddin selama tinggal di Makassar, sekaligus flashback bagaimana ayahnya yang orang Minang bisa sampai menetap di Makassar. Nyanyian[sunting] Ke pantai kedengaran suara nyanyian Iloho Gading atau Sio Sayang yang dinyanyikan oleh anak-anak perahu orang Mandar itu, ditingkah oleh suara geseran rebab dan kecapi. Lagu Iloho Gading tidak dapat ditemukan lagi di Google. Namun, Sio Sayang ada di youtube. Apakah lagu Sio Sayang yang sekarang ada di youtube itu sama dengan lagu yang Hamka maksud pada tahun 1938? Pulau Laya-Laya[sunting] Dia seakan-akan penjaga yang teguh, seakan-akan stasiun dari setan dan hantu-hantu penghuni Pulau Laya-Laya yang penuh dengan kegaiban itu. Ejaan lama Makassar[sunting] Di waktu senja demikian, kota Mengkasar kelihatan hidup. Fort Rotterdam[sunting] ... di dekat benteng Kompeni. Di benteng itulah, kira-kira 90 tahun yang lalu, Pangeran Diponegoro kehabisan hari tuanya sebagai buangan politik. Lapangan Karibosi[sunting] Sebelah timur adalah tanah lapang Karibosi yang luas dan dipandang suci oleh penduduk Mengkasar. Menurut takhayul orang tua-tua, bilamana hari akan kiamat, Kara Eng Data akan pulang kembali, di tanah lapang Karibosi akan tumbuh tujuh batang beringin dan berdiri tujuh buah istana, persemayaman tujuh orang raja-raja, pengiring dari Kara Eng Data. Gunung[sunting] Jauh di darat kelihatan berdiri dengan teguhnya Gunung Lompo Batang dan Bawa Kara Eng yang hijau nampak dari jauh. Pelabuhan Makassar[sunting] Kelihatan pula anggar baru, anggar dari pelabuhan yang ketiga di Indonesia, sesudah Tanjung Perak dan Tanjung Priok. Kampung[sunting] Di tepi pantai, di antara Kampung Baru dan Kampung Mariso Bantimurung[sunting] Jika disebut orang keindahan Bantimurung di Maros, di negerinya ada pula air mancur yang lebih tinggi. Minangkabau[sunting] Latar tempat bagian kedua pada novel ini, setelah Makassar, sebelum Tanah Jawa Gunung[sunting] Di kampungnya pun ada dua gunung yang bertuah pula, ialah Gunung Merapi dan Singgalang. Di Gunung Merapi ada talang perindu, di Singgalang ada naga hitam di dalam telaga di puncaknya. Lagu serantih[sunting] Masih terasa-rasa di pikirannya keindahan lagu serantih yang kerap kali dilagukan ayahnya tengah malam. Hamka menyebutkan kembali mengenai "lagu serantih" ini dalam bukunya yang lain Fakta dan Khayal Tuanku Rao.[5] Lagu Serantih disebut lagu Baruh. Kata "Baruh" disini merujuk pada daerah Barus, di Sumatra. Ada pantun-pantun ayahnya yang telah hafal olehnya lantaran dinyanyikan dengan nyanyi serantih yang merdu itu. Dapat disimpulkan bahwa serantih bukanlah "lagu" yang mengandung nada dan lirik, melainkan hanya "pola nada" yang biasa digunakan untuk melafalkan suatu pantun. Mirip dengan konsep "Pupuh" dalam kebudayaan Sunda. Batipuh[sunting] Suatu kejadian di suatu negeri kecil dalam wilayah Batipuh, Sapuluh Koto, Padang Panjang. Gelar[sunting] Seorang anak muda bergelar Pandekar Sutan, kemenakan Datuk Mantari Labih. Referensi[sunting] ↠↠Prof. Dr. Hamka 1938 dalam bahasa id, ms, min. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Balai Pustaka. Wikidata Q3472067. ISBN 978-979-418-055-6. OCLC 246136296. ↠↠â†
Through his literary work in the form of a novel, Buya Hamka contributed to advancing the education in Indonesia by contributing to his critical thoughts in the novel entitled “The Singking of Van Der Wijck”. The Researcher wants to carry out this research to find out and analyze what character education is contained in the novel “The Singking of Van Der Wijck”. The research method used in this research is descriptive qualitative method, which aims to describe, summarize, phenomena, and situations of social reality that occur in society. Through this method the researcher tries to observe and understand the object of research with the aim and obtaining the meaning of each words, text, sentence and paragraph. The result of this study indicate that Buya Hamka has succeeded in contributing knowledge intelligently and critically inserted into every word, text, sentence and paragraph contained in the novel “The Singking of Van Der Wijck”. It makes the readers have a devout and pious personality and know the values of character education, especially the educational values of teaching Islamic Religious Education. Abstrak. Melalui karya sastra yang berbentuk novel, Buya Hamka, turut berkontribusi dalam memajukan bidang pendidikan di Indonesia. Dengan turut membantu menyumbangkan pemikiran-pemikiran kritisnya dalam novel yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Maka dari itu peneliti ingin mengangkat penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pendidikan karakter apa saja yang terkandung dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan, fenomena dan situasi realita sosial yang terjadi di masyarakat. Melalui metode ini peneliti berusaha mengamati dan memahami objek penelitian dengan tujuan untuk memperoleh dan mendapatkan makna, arti dari setiap kata, teks, kalimat dan paragraf. Hasil penelitian ini menunjukan bahwasannya, Buya Hamka berhasil memberikan sumbangsih ilmu-ilmu pengetahuan yang dengan cerdas dan kritis disisipkan kedalam setiap kata, teks, kalimat dan paragraf yang terdapat dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Sehingga menjadikan pembacanya memiliki pribadi yang taat dan bertakwa serta mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter terutama nilai-nilai pendidikan pada ajaran agama Islam. To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the has not been able to resolve any citations for this AlifuddinAlhamuddin AlhamuddinNurjannah NurjannahThis article provided an anlytical description of the Muhammadiyah philanthropic movement to the Bajo community in Wakatobi. There were three important points hacked in this study, namely 1. Why did Muhammadiyah choose the domain of education for its philatropical movement in the Bajo community? 2. what was the pattern of Muhammadiyah's educational philanthropic movement in the Bajo community? 3. what was the Bajo community's response to the Muhammadiyah-based pure Islamic education philanthropy movement? Data collection was done through in-depth interviews, observation and documentation. Analyzing data used hermeneutic phenomenology approach. The results showed that the choice of moving in the realm of education by the local Muhammadiyah community was due to the essence of the education movement as a fulcrum for determining the quality of human resources, on the other hand expensive quality education services made most Bajo children to choose to go to sea rather than go to school. The choice of educational philanthrophy by Muhammadiyah was also due to the psycho-social reality of local children who were suspected of "experiencing" an inferiority complex when they interacted with the mainland children's community. The philanthropic movement pattern implemented by the local Muhammadiyah community was based on the philanthropic social movement, namely to form awareness of the local community about the urgency of education for future life continuity by relying on a belief system or religious basis. The smart work of the Muhammadiyah community combined with the positive action approach made the pure Islamic idea could be transformed into the Bajo cultural space through education and teaching in a natural humanistic manner, without causing controversy. Keywords Educational Philanthrophy, Bajo Community, Educational Philanthrophy Movement Alhamuddin AlhamuddinThis study aims to examine how to instruction design to optimize the potential of learners. The result of study showed that the design instruction to optimize the learners needs to do several steps, namely 1 multiple intelligences research; 2 mapping class based on learning style. Furthermore, teachers prepare learning design based on both aspects. Teacher consultation with the supervisor in preparing instructional design based on multiple intelligences, in consultation teacher discusses basic competencies to be taught and strategies in accordance with the tendency of learners in the classroom. The next phase is the observation supervisor in the classroom and the last step is the confirmation. Based on the results of this study, the researchers recommend to teachers to always pay attention and develop the potential that exists within the self-learners early on. Intelligence is not just limited to the intelligence of mathematical logic and language, but also kinesthetic, music, interpersonal, intrapersonal, spatial, and naturalistic intelligence. Pendahuluan Pendidikan dasar merupakan cikal bakal pendidikan yang akan banyak menentukan kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya. Keberhasilan menangani masalah pendidikan dasar merupakan langkah strategis untuk membenahi sistem pendidikan pada level selanjutnya dan pada giliranya akan menyentuh sistem pendidikan nasional. Mengingat perannya yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia, maka upaya peningkatan kualitas pembelajaran pada tingkat pendidikan dasar, memerlukan perhatian yang serius. Dekade 1980an, Gardner merumuskan konsep kecerdasan dari hanya terbatas pada yang cerdas logika matematika dan bahasa menjadi musik, kinestetis, intrapersonal, interpersonal, spasial, dan naturalistik. Adanya pengakuan dan penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan individu, tentu akan membawa konsekuensi lebih lanjut, yaitu bahwa pendidikan harus memperhatikan perbedaan-perbedaan dan mengembangkan sejauh mungkin apa yang dimiliki anak itu. Dengan Alhamuddin AlhamuddinThis study aims to describe the curriculum development at elementary school in Russian and Indonesia. This study shows that there are many differences between both countries. Curriculum structure of the basic education in the Russian State has more hours per week than Indonesia's does, but in a year of study time in Russia is shorter than in Indonesia is. Assessment System in Russia learning outcomes serve as the basis of the information to determine the competence of which has been obtained by the learners, not as a measure for grouping students into groups. It is not much different in Indonesia. Pendahuluan Secara umum, hakekat pendidikan diartikan sebagai upaya mengembangkan kualitas pribadi manusia dan membangun karakter bangsa yang dilandasi oleh nilai-nilai agama, filsafat, psikologi, sosial budaya, dan iptek yang bermuara pada pembentukan pribadi manusia bermoral dan berakhlak mulia dan berbudi luhur. Pendidikan diartikan juga sebagai upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia SDM yang memiliki idealisme nasional dan keunggulan profesional,serta kompetensi yang dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa dan Negara. Setiap bangsa memiliki sistem pendidikan. Dengan sistem pendidikan tersebut, suatu bangsa mampu mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan sikap, agama dan ciri-ciri watak khusus yang dimilikinya dengan cara tertentu kepada generasi penerus, agar nantinya, mereka dapat mewariskannya dengan sebaik-baiknya. Melalui sitem pendidikan itu, suatu bangsa dapat memelihara dan mempertahankan nilai-nilai luhur, serta keunggulan-keunggulan mereka dari generasi ke generasi. Sejalan dengan tumbuhnya ilmu-ilmu sosial pada akhir abad 19 yang dalam perkembangan pesatnya kemudian tertuju perhatiannya pada pengakuan adanya hubungan yang dinamis antara pendidikan dengan masyarakat atau negara tertentu. Pendidikan dipandang sebagai cerminan dari suatu masyarakat atau bangsa, dan sebaliknya suatu masyarakat atau bangsa dibentuk oleh sistem pendidikannya. Alhamuddin Alhamuddinp>This paper is an academic effort to explain some aspects of the concept of Islamic education thought Syaikh Abd al-Samad Palimbani 1714-1782 M. As a descriptive qualitative study, the main data in this study were obtained from a number of his works, especially from kitab Hidayah al-Sālikin . It’s contrast to the others previous scholars’ contemporaries, Hidayah al-Sālikin is unique work of Abd Shamad, especially in his approach. In these works Abd Shamad attempted to explain jurisprudent aspects using Sufism approach. This research analyses some aspects of Abd Shamad’s concept of Islamic education thoughts. According to him, Islamic education aims are to produce a good human being and to achieve happiness by getting close to God. Based on the conducted research, some recommendations for further researcher, it is suggested to investigate this issue more specifically and comprehensively. analisis novel tenggelamnya kapal van der wijck